Rabu, 06 Juni 2012

PERKEMBANGAN ILMU PRAGMATIK



PRAGMATIK
SEJARAH PERKEMBANGAN PRAGMATIK






OLEH:
A  B  I  D  I  N
A2 D1 09 123


JURUSAN  PENDIDIKAN  BAHASA DAN SASTRA
INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS  HALUOLEO
K E N D A R I
2 0 1 1



A.                PERKEMBANGAN PRAGMATIK
Pragmatik sebagai salah satu cabang ilmu linguistik mulai berkumandang dalam percaturan linguistik amerika sejak tahun 1970-an. Pada tahun-tahun sebelumnya, khususnya tahun 1930-an, linguisitk dianggap hanya mencakup fonetik, morfologi, dan fnemik. Dalam era linguistik itu yang lazim pula disebut linguistik era Bloomfield, kajian sintaksis dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan makna dikesampingkan dalam pencaturan linguistik karena dianggap terlampau sulit untuk diteliti dan dalam proses analisis.
Pada tahun 1950-an dengan berkembangnya teori linguistik Chomsky, sintaksis telah mendapatkan tempat dalam linguistik. Dalam teorinya, linguistik yang berlatar belakang filsafat mentalis ini menegaskan bahwa sintaksis merupakan bagian dari linguistik yang bersifat sentral. Gagasan kesentralan sintaksis itu kemudian mendatangkan pradigma baru dalam dunia linguietik. Sekalipun linguistik Chomsky dianggap lebih maju disbanding era linguistik sebelumnya, bagi tokoh ini masalah makna masih dianggap sulit untuk dianalisis.
Pada awal tahun 1970-an, para linguis yang bernuansa transformasi generative seperti Ross dan Lokoff,menyatakan bahwa kajian sintaksis itu tidak bias memisahkan diri dengan konteksnya. Sejak saat itu pula lahir sosok baru dalam dunia linguistik yang disebut prgmatik, khususnya untuk linguistik yang berkembang dibelahan bumi Amerika. Dapat dikatakan bahw dengan munculnya tokoh-tokoh itu telah menandai telah runtuhnya hipotesis tentang teori-teori bahasa yang telah berkembang diera-era sebelumnya.
Istilah pragmatik sebenarnya sudah mulai dikenal sejak masa hidupnya seorang filusufi terkenal bernama Charles Morris. Dalam memunculkan istilah pragmatic, Morris mendasarkan pemikirannya berdasarkan gagasan filusufi-filusufi pendahulunya seperti Charles Shanders Phierce, dan John Lokey yang banyak menggeluti ilmu tanda dan ilmu lambang semasa hidupnya yang biasa dinamai semiotika (semiotics). Dengam mendasarkan pada gagasan filusufi itu, Morris membagi ilmu tanda dan ilmu lambing kedalam tiga bagian yakni sintaktika (sintaktics) yakni ilmu tentang relasi formal tanda-tanda, semantika (semantics) yakni studi relasi tentang tanda-tanda dengan objeknya, dan pragmatika (pragmatics) yakni studi relasi tentang tanda-tanda dengan penafsirnya. Berawal dari filusufi ternama inilah pragmatic terlahir dan bertengger dalam dunia linguistik.
Linguistik yang lazimnya disebut sebagai ilmu yang mengkaji seluk-beluk bahasa keseharian manusia, memiliki beberapa cabang. Cabang-cabang tersebut secara linguistik dapat diurutkan: fonologi, morfologi, sintaksis, semantic dan pragmatik. Dari urutan cabang-cabang linguistik itu, tampak bahwa pragmatic merupakan ilmu linguistik yang paling baru.
Verhar (1996) menyebutkan bahwa lazimnya fonologi dibicarakan berdampingan dengan fonetik. Sebab keduanya sama-sama meneliti bunyi bahasa. Fonetik meneliti bunyi bahasa berdasarkan pelafalannya dan sifat akustiknya Sedangkan fonologi meneliti bunyi bahasa berdasarkan fungsinya. Morfologi dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari struktur internal kata, sintaksis mempelajari susunan kata dalam kalimat, semantic mempelajari perihal makna, sementara itu, pragmatic mempelajari apa saja yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi Antara penutur dan mitra tutur serta sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa yang sifatnya ekstralinguistik.

B.                 Aspek-aspek Pragmatik
Beberapa aspek Pragmatik seperti di bawah ini:
1.      Penutur dan lawan tutur
Konsep penutur dan lawan tutur ini juga mencakup penulis dan pembaca bila tuturan yang bersangkutan dikomunikasikan dalam bentuk tulisan. Aspek-aspek tersebut adalah usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat keakraban, dan sebagainya.
2.      Konteks tuturan
Konteks di sini meliputi semua latar belakang pengetahuan yang diperkirakan dimiliki dan disetujui bersama oleh penutur dan lawan tutur, serta yang menunjang interpretasi lawan tutur terhadap apa yang dimaksud penutur dengan suatu ucapan tertentu.
3.      Tujuan tuturan
Setiap situasi tuturan atau ucapan tentu mengandung maksud dan tujuan tertentu pula. Kedua belah pihak yaitu penutur dan lawan tutur terlibat dalam suatu kegiatan yang berorientasi pada tujuan tertentu.
4.      Tuturan sebagai bentuk tindakan dan kegiatan tindak tutur
Dalam pragmatik ucapan dianggap sebagai suatu bentuk kegiatan yaitu kegiatan tindak ujar. Pragmatik menggarap tindak-tindak verbal atau performansi-performansi yang berlangsung di dalam situasi-situasi khusus dalam waktu tertentu.
5.      Tuturan sebagai produk tindak verbal
Dalam pragmatik tuturan mengacu kepada produk suatu tindak verbal, dan bukan hanya pada tindak verbalnya itu sendiri.
Jadi yang dikaji oleh pragmatik bukan hanya tindak ilokusi, tetapi juga makna atau kekuatan ilokusinya.(Leech, 1993:19) Pertimbangan aspek-aspek situasi tutur seperti di atas dapat menjelaskan keberkaitan antara konteks tuturan dengan maksud yang ingin dikomunikasikan.

Kesimpulan
Berdasarkan latar belakang perkembangan pragmatik dapat disimpulkan bahwa kehadiran pragmatik disebabkan kerena adanya ketidakpuasan terhadap analisis bahasa yang hanya menekankan pada unsusr-unsur formal bahasa saja. Bahasa dipandang sebagai perwakilan atau perwujudan dari symbol-simbol bahasa. Sementara itu, perwujudan atau symbol-simbol bahasa hadir apabila ada sesuatu yang mendasarinya yang berupa unsur-unsur non kebahasaan. Para penganut strukturalis dalam menganalisis bahasa hannya menekankan pada struktur formal bahasa. Bahasa (kalimat) hanya dikatakan lengkap apabila memuat unsur pembentuknya dalam hal ini subjek (S) dan predikat (P) yang hanya ditandai dari segi aktif, pasif, transitif, intransitif, semitransitif. Sementara itu unsur-unsur yang menyertai kehadiran sebuah kalimat terkadang diabaikan. Para penganut pragmatik berpandangan bahwa bahasa sellu hadir bersamaan dengan konteks. Baik konteks lingual maupun ekstra lingual. Dalam analisis pragmatik, kajian bahasa tidak bias dilakukan tanpa mempertimbangkan kontekks situasi yang meliputi penutur dan mitra tutur, situasi, tujuan pembicaraan, serta dampak atau bentuk-bentuk perubahan yang ditimbulkan akibat tindakan tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar